Lelah Melihatmu Seperti Ini.

          Keadaan ini membuatku lelah. Semua rasa bercampur menjadi satu. Nyatanya menjadi sahabat bagimu menumbuhkan banyak nyeri di hati. Katamu,dia tak bisa membuatmu bahagia. Tak mau sedikitpun berjuang untukmu. Lalu mengapa pada akhirnya kamu memilih tetap bertahan?
          Kamu mungkin ingin membuat semua orang menilai bahwa kamu lelaki yang setia. Tapi cinta juga tak semestinya sebodoh itu. Bertahan dengan orang yang bahkan tak bisa menghargai usahamu dalam mempersatukan yang retak agar tetap utuh.
          Aku benci melihatmu menjadi munafik. Menjadikan satu gadis sebagai kekasih namun menabur harapan semu pada gadis-gadis lain. Bukan seperti ini harusnya pelampiasanmu. Rasa sakit tak akan terobati dengan cara menyakiti yang lain. Kau tahu,bahwa rasa cinta itu mulai mengikis. Namun kau berpura-pura menganggap itu baik-baik saja.
          Akuilah,tuan. Hatimu bukan lagi miliknya. Tak ada pancaran cinta saat kau menceritakan tentang dia kepadaku. Sebab yang ku lihat hanya tatapan terluka. Dan aku benci mengatahui hatiku juga ikut terluka melihatmu seperti ini. Sesekali aku ingin meneriakimu. Mengatakan padamu bahwa aku bisa mengobati hatimu. Kau tahu persis aku mencintaimu. Kau juga mengerti aku cemburu melihatmu menggoda gadis-gadis itu. Tapi kau tak pernah mengizinkan aku untuk membalut luka itu. Selalu saja kau memilih menganggap perasaan cintaku tak ada.
          Rasanya aku ingin menyalahkan takdir yang mempertemukan kita. Meneriaki keadaan yang semakin membuatku mendekat padamu. Sekalipun aku ingin menjauh,waktu membuatku kembali padamu. Tuan,jika memang Tuhan izinkan kita untuk saling menyembuhkan,mengapa kau tak menurutinya saja?

          Jika memang pilihan ini yang ingin kau jalani,maka aku akan menghargai keputusanmu. Tapi ingatlah,tuan. Meskipun aku membiarkanmu mematahkan hati,bukan berarti aku acuh. Aku peduli meski sedih melihatmu mendidih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Am I Wrong?

Cerita Akhir

Kilas balik