Melupakanmu Secepatnya.

          Senja telah usai dan malam datang dengan segala keindahannya. Di atas sepeda motormu yang melaju kita menikmati hiruk pikuk kegiatan masyarakat kota malam hari. Menatap kilauan lampu-lampu jalan yang terang juga melihat-lihat hiburan yang di suguhi sepanjang jalan menuju pulang.
          Beberapa jam yang lalu kita menikmati hari beramai-ramai. Saat itu,kau bersikeras menarikku untuk masuk ke salah satu toko buku. Katamu,ada buku yang sedang kau cari dan aku memilih membuntuti langkah kakimu. Di barisan rak-rak buku,kau menenggelamkan diri bersama dengan buku-buku yang membuatku pusing. Sedang aku memilih membaca asal buku-buku yang tepat berada di sebelah rak buku yang kau incar. Sepuluh menit berlalu aku menatap kau asik membaca. Meremehkan suasa sekitar. Lalu tiba-tiba saja sajian musik yang di perdengarkan di dalam toko buku itu berubah menjadi sedih.
          Kembali aku menatapmu kali ini dengan tatapan sendu. Di dalam hati aku mengutuk petugas toko buku ini karena telah menghancurkan suasana hatiku. Di sisi lain,aku juga semakin resah mendapati kenyataan semakin menamparku. Jarak kita dekat,tapi mengapa hatimu harus melekat pada hati yang lain?
          Sungguh aku benci ketika segala hal tentangmu menari-nari di pikiranku. Sulit bagiku untuk mengingkari kenyataan yang ada di hadapanku. Sebab di keadaan begini, aku selalu merasakan sesak saat mengingatmu merangkul bahu perempuan lain. Melihatmu membiarkan perempuan lain duduk di kursi penumpang sepeda motormu juga mendengar siulan orang-orang yang menjodohkanmu dengan perempuan lain.
          Kini, kita duduk tepat di atas sepeda motormu. Jujur keresahan juga gelisah sudah merayapi hatiku sejak tadi. Karena aku sadar,setelah ini aku harus siap menyambut luka yang datang. Luka yang tercipta saat hati ini tak bisa memiliki dirimu. Saat hati ini memperingatkanku untuk tak lagi menerima perlakuanmu.

          Di sepanjang jalan menuju pulang ini,aku kembali berucap di dalam hati. Bahwa aku akan menghapus segala yang tumbuh. Bahwa aku juga akan mengingkari adanya rasa itu. Sama seperti kau yang memilih menampik segala yang tercipta di antara kita. Selamat tinggal,seseorang yang telah dimiliki orang lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Am I Wrong?

Cerita Akhir

Kilas balik