No Title

Kepada kamu,penghuni tetap sebagian relung hatiku.
          Ketika kau membaca ini aku telah mengumpulkan banyak keberanian untuk merujukmu membaca tulisan ini. Melalui tulisan ini aku ingin menjabarkan segala rasa dan resah yang terasa. Mungkin kau sudah tahu sejak lama bahwa aku menyimpan rasa yang berbeda. Rasa yang di miliki seorang perempuan kepada seorang laki-laki. Sebelumnya aku tidak pernah merencanakan untuk jatuh pada pesonamu. Aku juga baru menyadari rasa itu ada setelah perpisahan pertama kita. Saat itu ada sekumpulan cemas yang menjelma jadi pikiran-pikiran buruk tentangmu ketika aku tidak lagi bisa berada di dekatmu.
          Pelan-pelan aku menitipkan isyarat yang ku harap dapat kau baca. Aku tahu,kamu memahaminya meski tidak selengkap yang sesungguhnya. Tadinya aku berpikir bahwa dengan ini semua akan menjadi lebih mudah. Meski ternyata penilaianku salah.
Sikapmu yang memilih diam,namun tidak juga menentukan sikap yang jelas. Dalam sudut pandangku,kau sangatlah ambigu. Jalan pikiranmu begitu sulit untuk ku tebak. Kadang kala ketika aku berusaha keras membunuh segala rasa,kau hadir dengan nada manja juga senyum-senyum yang tidak bisa ku tolak. Lalu di setiap aku mencoba pasrah pada rasa yang ku miliki,kau seakan pergi diam-diam dan menghilang bak di telan bumi.
Pelan-pelan aku berusaha keras berpaling darimu. Ku coba untuk menerima hati yang baru,hasilnya selalu saja gagal. Semakin lama,aku malah semakin ahli dalam mematahkan hati mereka. Walau sesungguhnya ku akui mereka yang datang menawarkan kebahagian memiliki hati yang tulus. Jiwa-jiwa yang setia. Namun,aku tidak bisa membiarkan mereka menetap lama. Sebab aku sadar,kapanpun kau bisa datang dan mewujudkan segala harap yang ku pupuk di dalam dada.
          Kini,kau tahu seberapa jarang kabarmu mampir di ponselku. Lalu sekarang aku harus berkutat dengan jarak yang kau ciptakan. Tuan,aku memang tidak menyalahkan jarak. Aku juga tidak bisa menyalahkan kabarmu yang dalam setahun bisa di hitung dengan jari jemariku. Karena aku selama ini sadar dan paham seperti apa kamu;orang yang ku cintai. Aku mencoba mencintaimu dengan rasa sabar. Sabar menanti kabarmu. Sabar menahan rindu. Juga,sabar menghadapi sikap cuekmu. Dan,aku juga berusaha mencintaimu dengan penuh pengertian. Mengerti hobimu. Mengerti kebiasaanmu. Juga,mengerti keadaanmu.
          Jika kau ingat perbincangan kita pada sabtu malam,tentang taruhanku kepada temanku yang harus mengatakan kata-kata aneh kepadamu sesungguhnya ada sedikit kebohongan disana.
Saat kau bertanya,kenapa harus menelponmu? Jawabannya adalah karena mereka tahu aku tak bisa berkutik jika itu menyangkut tentangmu.
Saat kau bertanya,apa yang ingin ku katakan  jika aku kalah? Jawabannya adalah aku harus mengakui segala yang ku rasa padamu.
          Teman-temanku tahu betul bahwa kelemahanku ada padamu. Jika kau mungkin bisa kembali mengingat,pada malam hari kita berbincang lewat saluran telepon untuk pertama kalinya. Aku merasa begitu gugup. Nada suaraku sedikit bergetar dan detak jantungku berpacu saat sapaan pertamamu terdengar di telingaku. Ku harap saat itu kau tidak menyadarinya. Di dalam hati,aku berulang kali mengucapkan terimakasih pada Tuhan karena bersedia mengobati rasa rinduku pada dirimu.
          Lalu mari kita berjalan sedikit jauh ketika pesan singkat yang kau kirim sehari sebelum keberangkatanmu. Sudah sejak beberapa hari sebelumnya,semua orang bertanya tentang kapan kau pergi kepadaku. Tanya-tanya itu menghantui pikiranku. Membuatku berusaha keras menahan rasa keingintahuanku tentang kepergianmu. Sebab aku khawatir jika pada akhirnya aku tidak mampu menahan tangis lalu memintamu untuk tetap tinggal di kota kita. Dan,aku benci memperlihatkan sisiku yang seperti itu kepadamu.
Jujur ku katakan,tuan. Sudah sejak kau di terima,aku berusaha mati-matian menguatkan diri. 2 hari setelah kado dariku sampai ke tanganmu,aku sudah menangis sejadi-jadinya. Hatiku tidak bisa menjadi munafik untuk tidak mengakui bahwa ada banyak ketakutan yang terasa lekat di kepala. Takut ada yang lain,yang menemani harimu. Takut kau merasa sendirian disana.
          Hah..mungkin ceritaku sudah terlalu panjang dan bertele-tele. Pada paragraf ini aku ingin menyampaikan inti dari keseluruhannya. Sudah berpuluh-puluh hari aku berusaha tetap berjalan menuju hatimu.  Bertahan sembari mengharap kau menyambut rasaku. Tetap meyakini diri sendiri bahwa kau bisa ku percayai sepenuhnya. Tapi kali ini,aku menyatakan bahwa segalanya ingin ku akhiri. Perjuanganku juga penantianku. Aku lelah mengejarmu terus menerus. Setiap kali aku mencoba bertahan selalu saja ada pikiran jahat tentangmu yang membuat sesak di dada. Tentang kamu yang kemungkinan tidak cinta.  Tentang kamu yang memang tidak pernah menganggap aku ada. Untuk terakhir kalinya,tuan. Aku mengakui bahwa benar aku mencintaimu, dan untuk terakhirnya kalinya juga aku bertekad kuat untuk melupakan perasaan ini. Aku tidak mampu menafsirkan jalan pikiranmu. Aku juga tidak ingin terus-terusan menyakiti hatiku dan menambah luka pada orang lain.
          Setelah tulisan ini selesai,aku berharap kita tidak akan berubah menjadi orang asing. Bagiku,kau tetaplah seorang teman. Aku hanya butuh waktu menyesuaikan diri untuk  bisa bersikap selayaknya teman kepada temannya. Maaf telah membuatmu di keadaan yang sulit dan terimakasih telah bersedia menjadi seseorang yang ku cintai selama ini.

Salam sayang,

Seseorang yang pernah berharap bisa memilikimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Am I Wrong?

Cerita Akhir

Kilas balik