Auntie yang Baik.

Kejadian ini terjadi di hari minggu,dimana saat itu aku terpaksa membatalkan janji sama teman-teman tetangga untuk jogging pagi karena mami *panggilan sayang* tiba-tiba ngetuk pintu kamar aku jam 05.15 WIB sambil teriak
“Sholat…sholat..nantik jam 8 wakilin si Srik *nama disamarkan* ya,dia ada perlombaan senam”
Singkat cerita setelah siap dandan pukul 08.05 WIB alias telat si mami udah marah-marah takut si Srik ketinggalan lomba. Akhirnya perjalanan di persingkat dengan ngebut oleh abang iparku. Sampai di rumah,si Srik malah lagi asik nonton kartun *asem ini anak-_-* aku cepat-cepat suruh dia ambil semua bawaannya dan kami meluncur ke arena perlombaan.
Ternyata setelah sampai,itu gedung masih terkunci dan hanya ada beberapa peserta yang setia nungguin di depan pintu gedung *oalah dalah*. Jujur ini adalah kedatangan aku kedua kalinya ke tempat ini. Dulu pernah juga nerima tawaran kakak ngeliatin keponakan-keponakanku latihan senam dan aku ga kuat ngeliat latihan mereka yang menurut aku ‘ekstrim’. Di pikiran aku,anak-anak seusia mereka itu masih dalam taraf ‘dimaklumi’ kalau ngelakuin kesalahan. Tapi di tempat ini beda. Latihan mereka benar-benar seperti orang dewasa. Kadang kalau salah di marah-marahi bahkan sampai di bentak. Sebagai seorang perempuan yang nantinya juga akan jadi seorang ibu *cieeee,padahal masih lama lagi* aku cukup miris melihatnya. Kadang juga pengen teriak sama para pelatih itu dengan bilang “Mereka masih kecilllll!!!!!!” tapi hal itu aku urungkan,mengingat jumlah orang yang latihan sama pelatihnya juga banyak.
Mereka ini memang benar-benar di tempah sejak kecil untuk jadi atlit disini. Contohnya kayak keponakanku yang ikut ajang PON/PORKOT *aku lupa-_-“* waktu tahun lalu,Cuma sayangnya berhasil lolos di final aja. Well,balik ke masa depan! Akhirnya itu pintu terbuka juga,dengan berbondong-bondong para peserta yang daritadi sudah karatan di depan pintu masuk dan ngambil tempat masin-masing. Para orangtua termasuk aku memilih tempat yang sudah di sediakan. Satu persatu matras yang terbentang lebar itu sudah di penuhi sama anak-anak yang latihan untuk perlombaan itu. Awkward moment terjadi ketika si Srik bilang “Buk…nanti make up-in yaaa” bagai di sambar petir pagi hari aku yang gak pernah make up sendiri apalagi di suruh make up-in orang melongo karena gak bisa. Di dalam hati aku mulai berdoa ‘Ya Allah..maafkan hamba yang tidak bisa jadi perempuan sempurna karena gak pande dandanin anak oranggggg!’ tapi untungnya di detik-detik terakhir sebelum perlombaan di mulai,pelatih si Srik datang buat ngebetulin make up si Srik*fiuhhh Alhamdulillah*.
Aku sempat ternganga saat melihat para pesertanya. Ada yang berusia sekitaran 2 atau 3 tahun sampai yang seusia SMP *menurut analisisku*. Memang sih,mereka ini hanya di bedakan oleh tipe jenis senamnya dan juga jenis kelaminnya. Jadi bisa di pastikan saingan si Srik cewek semuaaaa! Untuk yang perlombaan cowoknya sih kayak berhubungan dengan otot-otot gitu. Terbukti dengan badan-badan mereka yang sixpack dan otot mereka yang sudah kebentuk. Aku aja kadang ngiler ngeliatnya. Terpesona sih, cuma bayangan kalau aku udah punya Choi Siwon buat aku sadar bahwa laki-laki yang ada di hati aku itu cukup si pria mirip Cho Kyuhyun versi kalem *lah?*
Selama pertandingan berlangsung,perform mereka itu bagus-bagus. Badan mereka lentik dan wow mengingat mereka yang masih umur segitu udah pandai duduk lurus dengan kaki yang ngangkang dengan sempurna.si Srik ini mengikuti senam ala-ala ballet tapi kayak ada ritmiknya *aku lupa (lagi) namanya apa*. Pertandingan pertama dengan alat menggunakan bola,si Srik ku beri nilai sangat bagus *yaiyalah sodaranya-_-*. Tapi sewaktu sesi dengan menggunakan holahop itu si Srik pas di suruh berlatih lagi asik besalahan aja. Dia sampai mau nangis karena di marahi terus sama pelatihnya. Meskipun di acuhkan,si Srik tetap berlatih. Kelihatan banget kalau pelatihnya itu kecewa sama gerakan si Srik yang tidak sempurna. Dan di sinilah aku menyadari bahwa mereka di didik dengan keras supaya mental mereka kuat. Gak gampang nangis. Meskipun gagal,tetap harus mencoba karena tanpa kita sadari banyak orang yang sudah menaruh harapan sama kita.
Akhirnya,pertandingan si Srik selesai. Walau penampilannya lumayan bagus,namun senyum di pipinya sudah menghilang. Dengan penuh keringatan dia mendatangi aku mintak minum dan duduk di sebelah aku. Kesempatan ini tidak ku sia-siakan untuk ngajak dia ngobrol! Berulang kali dia bilang “ibuk,udah telepon mamak?” atau “mamak ada nelpon ibuk?” itu aku abaikan begitu saja mengingat operator mamaknya denganku berbeda jurusan. Jadi ngerasa sedih juga buat dia kecewa. Mungkin,dia ingin dapat dukungan dari mamanya sebagai orang yang paling dekat dengan dia *puk-puk adekkkkkk({})*. Lalu aku memakai jurus jitu yaitu berbohong! *bagi para pembaca,hal ini jangan di tiru yaaaa* aku bilang ke dia,kalau sebenarnya aku udah nelpon mamanya dan mamanya bilang “Srik harus bagus ya nampilnya. Harus menang!!” seketika itu juga terbitlah senyum si Srik dengan bilang “ibuk bohong yaaaa” *Alahmak ketahuan—“*
Dengan berakhirnya seluruh perlombaan itu dan si Srik di nyatakan kalah,tapi senyumnya gak pernah hilang sampai rumah. Ternyata si pelatih mengerti dengan usaha mati-matian mereka dalam latihan. Walaupun,mereka tidak bisa mewakili Medan untuk ikut kejuaraan atlit bulan Oktober nanti di Bandung/Surabaya *aku lupa (lagi dan lagi)* ,mereka tetap di beri apresiasi oleh pelatih mereka yaitu;hadiah!!!! Di dalam hatinya si Srik,biarlah pulang tidak bawa medali tapi yang terpenting tetap dapat hadiah.

Dan sepanjang hari itu,aku berasa jadi auntie yang super duper baik banget. Kalau kata ibu-ibu di sana itu ‘tantenya si Srik’ yang kalem dan jarang kelihatan-_- tapi aku senang banget bisa nemeni dia,nyemangati dia dan dapat hiburan gratis dari anak-anak itu. Ini catatan aku persembahkan untuk keponakan ke duaku;Srik yang sudah berjuang keras untuk perlombaan ini. Semoga di perlombaan selanjutnya,dia bisa membawa hadiah plus medali juga. Semangat sayang!!!!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Am I Wrong?

Cerita Akhir

Kilas balik