Melupakanmu Seutuhnya.

          Semelelahkan ini rupanya menghadapimu. Mempertahankan apa yang ku percayai di dalam hati agar segera kau miliki. Kau memilih diam. Mengabaikan segala yang diam-diam telah ku tunjukkan. Berhargakah hati ini untuk kau miliki?
Menggenggam cinta ini begitu rumit. Hingga aku berulangkali merasakan jatuh bangunnya. Berusaha sekuat mungkin untuk memastikan kau melihat apa yang ku perjuangkan juga tak bisa membuat hatimu luluh. Jujur,ada beribu kekhawatiran yang setiap detiknya menggodaku. Ada sejuta caci makian atas sikap bodohku yang masih membiarkan kau bersemayam bersama angan-angan yang aku sendiripun sadar takkan pernah terjadi.Aku mencoba menyerahkan segalanya pada Sang Pemilik Hati. Mengikhlaskan segala hal yang sekiranya akan ku lupakan nanti. Tapi mengapa rasanya semakin sulit aku menanggalkan namamu?
Tuan,mungkin ini terakhir kalinya aku mengakui segalanya. Kelelahan ini membuatku tertatih-tatih menyadarkanmu. Sudah saatnya aku berhenti meneruskan segalanya. Maafkan aku yang tak bisa bersabar lagi padamu. Aku akan mengabadikan perasaan itu agar kelak bisa ku tertawakan kebodohanku dalam menggapai dirimu.

Dahulu jika perasaan seperti ini menyergapku. Aku akan merapalkan doa di sepertiga malam-Nya.  Mengemis-ngemis agar memberiku jalan menuju hatimu. Tapi sekarang cukuplah sudah aku mengharapnya. Mungkin jalan yang sebenarnya adalah berpaling dari hatimu. Mungkin bukan aku perempuan yang beruntung memilikimu. Bukan aku perempuan yang pantas memenuhi pikiranmu di setiap malam dan pagimu. Semoga kelak kita berjumpa pada keadaan dimana kau dan aku tak lagi punya rasa-rasa yang sebenarnya semu. Sampai jumpa di kisah yang lain. Aku merasa senang pernah hampir menggenggammu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Am I Wrong?

Cerita Akhir

Kilas balik