Demi Gadis yang Telah Dimiliki
“Aku mencintai kekasihmu. Dan aku
sangat ingin memilikinya. Bahkan jika aku harus merebutnya darimu” tatapan
tajam diantara mereka memberikan aura yang mencekam. Laki-laki yang bernama Ken
itu memberikan senyum sinis pada laki-laki yang ada di depannya;Gani.
“Silahkan. Itupun kalau dia punya
perasaan yang sama denganmu” ungkap Gani yang juga tak kalah garang membalas
tatapan teman satu kelasnya.
Serangkaian ujian yang harus di
lewati seluruh murid kelas XII itu membuat hubungan Gani dan Satira merenggang.
Ini semua bermula karena ruang kelas yang mereka tempati terpisah. Gani yang
ruangannya berada di lantai satu lebih memilih berdiam diri di kelasnya tanpa
pernah berniat sekalipun mendatangi kekasihnya yang ada di lantai tiga.
Pemikiran sederhananya bahwa Satira tidak akan marah malah berimbas buruk untuk
hubungannya. Tanpa di sadarinya,diam-diam ada laki-laki lain yang menyimpan
hati untuk kekasihnya. Laki-laki itu adalah Ken,teman satu kelasnya yang juga
lumayan dekat dengan kekasihnya. Kesempatan yang terjadi selama hampir 3 minggu
itu di manfaatkan oleh laki-laki itu untuk mengunjungi kekasihnya. Menarik simpati
kekasihnya agar hubungan mereka rusak.
“Tentu saja. Aku muak melihatmu
bersikap kasar padanya” tutur laki-laki di hadapannya. Dia tidak menyangka jika
teman sekelasnya nekat melakukan ini terhadapnya. Memang benar selama ini dia
telah berbuat kasar pada Satira. Tapi kekasihnya itu memahami bahwa seperti
itulah cara dia mencintainya.
“Dia tidak lagi protes dengan
sikapku. Kenapa malah kau yang tidak terima?” tanyanya tanpa sabar. Emosinya
kian meluap. Andai saja ini bukan di sekolah mungkin dia sudah melayangkan
tinju pada Ken. Tapi pikirannya masih waras. Satira masih berada di sekolah ini
dan dia ingat dengan jelas peringatan Satira tentang betapa bencinya dia pada
laki-laki yang senang menggunakan otot daripada otak.
“Dia yang tidak protes,atau kau yang
buta? Lihatlah bersamamu,dia nampak tertekan. Kau membuat dia terpaksa menjauhi
teman-teman lelakinya. Disis lain kalian tampak seperti musuh. Lalu coba lihat
bagaimana dia saat bersamaku? Bahagia. Bahkan kami terlihat seperti pasangan”
pandangan Ken beralih pada gadis di lantai satu yang sedang asik tertawa
bersama teman-temannya. Dia tidak pernah tahu sejak kapan gadis itu memenuhi
ruang di hatinya. Sejak kapan jantungnya berdetak lebih cepat ketika bersama
dengan gadis itu. Gadis itu tidak terlalu cantik. Terkesan biasa saja. Tapi
rasanya gadis itu memiliki daya tarik tersendiri baginya.
Pikirannya berputar saat dia
tiba-tiba ikut tenggelam bersama obrolan
teman-teman Satira tentang tipe pria idaman. Dengan nada canda,dia melontarkan
pertanyaan yang cukup berani kepada Satira.
“Memangnya kamu mau jadi istriku?”
tanyanya dengan nada canda dan semua gadis-gadis yang berada disanapun memahami
bahwa Ken dan Satira di juluki pasangan yang senang bertengkar namun sebenarnya
saling peduli. Terbukti saat Ken yang berambisi ingin masuk di salah satu
sekolah kedinasan akuntansi namun sulit di bidang akuntansi dan matematika itu
akhirnya membuat Satira berinisiatif memberikannya bantuan untuk mengajari Ken. Dengan sabar dan teliti,Satira
benar-benar menjelaskannya hingga Ken benar-benar paham dengan materinya.
“Mau. Kalau kamu bisa kasih aku uang
100 juta tiap bulan” jawaban Satira saat itu benar-benar membuatnya belajar
dengan keras. Dia tahu,meskipun itu hanya sebuah candaan setidaknya kalimat
yang di ucapkan Satira berhasil membuat semangat belajarnya bertambah.
“Mungkin kau benar. Tapi jujur aku
takkan pernah merelakan dia jadi milikmu” ucapan Gani menarik laki-laki itu
kembali pada dunia nyatanya. Ken beralih menatap Gani. Mereka saling
bertatapan. Namun bedanya kali ini suasana yang mengerikan tadi meluap entah
kemana.
“Tidak masalah. Bagiku yang
terpenting dia lepas darimu” kedua laki-laki itu kini saling berjabat tangan. Menyepakati
keputusan mereka. Gani akan melepas Satira dan Ken harus berusaha memenangkan
hati Satira. Mungkin benar,Ken tidak akan semudah itu mendapatkan hati Satira.
Tapi dengan membuat Satira lepas dari Gani sudah menjadi sebuah kelegaan dalam
hatinya. Dia tidak akan lagi melihat Satira melamun karena laki-laki itu. Dia tidak akan melihat Satira bersedih lagi. Walau
caranya terkesan ‘berani’ tapi dia tidak akan pernah menyesal menjadi penyebab
kandasnya hubungan Gani dan Satira.
Komentar