Hampir Memiliki.

            Seluruh tubuhku bergetar dengan hebat. Keringat dingin sudah bercucuran semenjak niat itu ingin ku laksanakan. Aku takut kegugupan ini mengalahkan keberanianku untuk mengajakmu berbincang tentang kita dan perasaan. Kali ini kau memilih duduk di bangku paling belakang,persis di dekat jendela dengan memasang headphone kuningmu itu dan tenggelam bersama dunia rock yang aku yakini mengalun indah di telingamu. Matamu tertutup rapat,sesekali aku melihat gerakan bibirmu yang bernyanyi kecil mengikuti lirik lagu yang kau dengarkan.
            Aku mulai melangkah menuju kepadamu. Sadar atau tidak,inilah pertama kalinya kita duduk bersebelahan. Aku memilih diam. Memperhatikan wajahmu dengan lekat sebelum niat itu aku jalankan. Wajah ini tidak akan lagi aku lihat sesering dulu setelah perjalanan ini selesai. Mata itu tidak akan lagi menatapku dengan lembut dan bibir itu tidak akan lagi melontarkan kalimat-kalimat menggoda. Ah..memikirkannya membuat rasa rinduku sudah meluap-luap padamu.
            Kamu sepertinya mulai terusik dengan perhatian diam-diamku ini. Aku memilih mengalihkan tatapan dan ikut bergabung bersama teman-teman kita yang sibuk tertawa mengenang kejadian bersama kita selama ini.
            “Sejak kapan kamu disini?” suara itu memasuki indera pendengaranku. Menatapku lengkap dengan tatapan terkejutnya.
            “Sejak bus kita mulai berjalan” aku hanya memandanginya sebentar melihat tanggapannya yang ber-oh-ria dan memilih diam. Membetulkan posisi duduknya. Menatap pohon-pohon yang berbaris sepanjang perjalanan pulang.
            Aku berdehem pelan,mengatur nafas dan rasa gugup ini. Mengumpulkan keberanian untuk bisa mengatakannya. Aku menatap Sarah;teman dekatku,yang sejak dari tadi mengawasi gerak gerikku. Sarah mengepalkan tangan ke atas sembari mengeja kalimat –FIGHTING!- untukku. Baiklah,seharusnya aku tidak membuat taruhan dengannya rutukku di dalam hati.
            “Aku ingin berbicara sesuatu denganmu,boleh?” aku menatap laki-laki di sebelahku. Aku berani bersumpah,menatapnya sedekat ini membuat sendi-sendiku lemas.
            “Katakan saja” ucapnya tanpa merubah pandangannya dari pepohonan itu.
            “Dengarkan baik-baik ya,karena aku tidak akan bisa mengatakannya lebih dari sekali” posisinya berubah menghadapku. Menatapku dengan intens. Sial! Responnya membuat kegugupanku bertambah berkali-kali lipat.
            “Mungkin ini akan menjadi pertemuan terakhir kita,dan aku tidak ingin menyesal karena tidak pernah mengatakannya kepadamu. Seperti yang kita ketahui,diamku selama ini karena hal-hal tidak enak yang terjadi pada kita. Sahabatku mencintaimu dan kau yang akhirnya memilih menjadi kekasih temanku” aku memilih memberi jeda sebeum mengatakan inti dari niatku. Menarik nafas panjang dan berdoa di dalam hati dengan apa yang akan terjadi nantinya semoga akan lebih baik dalam hubungan kami.
            “Aku menyukaimu dan itu sudah ku sadari sejak kita berada di kelas sepuluh” ada kelegaan tersendiri bagiku ketika kalimat keramat itu akhirnya keluar dari mulutku. Aku tidak menyangka akan melakukan ini. Perbuatan yang dulu ku benci kini benar-benar aku lakukan.
            “Jangan salah paham. Aku hanya ingin mengatakannya padamu. Aku hanya tidak ingin gemuruh di dalam dadaku ini tersimpan terlalu lama” ucapku dengan memberanikan diri melihat responnya yang sulit di tebak.
            Setelah 3 jam perjalanan itu berakhir,Sarah langsung mendatangiku yang masih kesusahan membawa barang-barangku. Laki-laki di sebelahku tadi lebih dulu mengucap salam perpisahan dan pulang. Tidak henti-hentinya Sarah merecokiku dengan pertanyaan-pertanyaan tentang apa saja yang terjadi diantara kami sepanjang perjalanan tadi. Dan disinilah kami berada;di kamarku.
            “Jadi,bagaimana?” tatapan keingintahuan Sarah begitu menuntut untuk di jawab. Lengkap dengan piyama hijau bermotif gambar hati yang di gunakannya dengan memeluk bantal berbentuk hati milikku.
            “Ya,kami berbicara tentang banyak hal. Dari dia bisa menjadi kekasih Zara sampai sekarang” ujarku acuh sembari mengikat rambutku dan menggulung rapi poni depanku dengan rol rambut.
            “Benarkah? Lalu inti dari seluruh pembicaraan kalian apa?”
            “Singkatnya,dia juga menyukaiku. Dia menjadikan Zara sebagai pelarian karena menganggap aku tidak menyukainya” aku memutar badan menghadap kearahnya.
            “Akhirnya?” ucapnya dengan penuh tanda tanya. Ah..anak ini senang sekali menggali informasi hingga ke akarnya. Membuatku heran dengan sifatnya yang satu ini.
            “Ya sudah berakhir. Kami sama-sama tahu bahwa perasaan kami tidak bertepuk sebelah tangan” jawabku seacuhnya dengan mengangkat bahu. Sarah nampak menghembuskan nada kesal. Hei,apa aku membuat kesalahan disini?
            “Kenapa tidak jadian saja?” nada ketusnya keluar. Apa dia berpikir bisa semudah itu pacaran terjadi setelah banyak hal yang sudah kami lewati? Anak ini,seharusnya otaknya sudah dari dulu ku cuci.
            “Niatku hanya mengatakan. Lagian kita sudah berpisah. Dia sudah memilih jalannya,begitu juga denganku. Mungkin lebih baik jika perasaan ini di hapus saja” ungkapku dengan pandangan menunduk. Walau rasanya sudah lega tapi aku tidak bisa berbohong bahwa rasa memilikinya masih ada. Bahkan ketika dia turun dari bus dan tak menampakkan batang hidungnya lagi sudah membuat rasa rinduku bertambah.

            “Bodoh. Semoga nanti kalian tidak menyesal!” Sarah memutuskan tidur dan mematikan lampu utama kamarku. Aku mengerti jika saat berbicara dengannya tadi aku bisa menciptakan kesempatan. Tapi perjalanan kami sekarang sudah berbeda. Dia memilih melanjutkan belajar di kota Surabaya,sedangkan aku hanya menetap disini. Akan lebih rumit akhirnya kami jika memilih bersama. Dia tampan. Tinggi. Pintar bermain alat music. Gadis mana yang akan menolaknya? Mahir di bidang teknologi saja sudah menjadi nilai tambah untuknya. Mungkin benar,salah satu diantara kami akan ada yang merasa menyesal karena hanya pernah hampir memiliki. Tapi apa yang bisa di lakukan sekarang? Semuanya terasa percuma. Bagaimanapun,perasaan itu terlambat untuk menyatu. Dan satu hal yang masih ku syukuri adalah setidaknya aku pernah hampir memilikinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Am I Wrong?

Cerita Akhir

Kilas balik